h1

Puncak Gunung Pangilun, Mutiara Pariwisata Tersimpan

Februari 6, 2009

Menikmati keindahan kota dari ketinggian selama ini kerap dapat dilakukan dari atas pesawat. Baik pesawat berukuran kecil atau besar. Cara demikian hanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu, yang memiliki kocek yang cukup untuk menyewa pesawat tersebut. Bagaimana dengan orang kecil yang nota bene tidak memiliki kemampuan seperti demikian?

Ilham Safutra—Padang

Kini menikmati keindahan alam dari ketinggian dapat dilakukan oleh siapa saja di Kota Padang. Cara itu tidak mesti menggunakan jasa angkutan pesawat terbang. Cukup dengan mendaki bukit setinggi sekitar 70 meter dari permukaan laut (dpl). Bukit itu bernama Gunung Pangilun, yang terletak di kawasan Jalan Gajah Mada, tepatnya di Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara. Meski daratan itu masih dalam kategori bukit, tapi warga sekitar tetap menyebut daratan setinggi itu dengan gunung. Sebelumnya Gunung Pangilun hanya dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemakaman warga pribumi di sekitar kawasan Gunung Pangilun itu. Untuk menempuh puncak Gunung Pangilun, para pendaki harus berjuang keras. Sebab, gunung itu memiliki kemiringan Gunung Pangilun cukup terjal, sekitar 70 derjat. Sehingga warga yang ingin mengantarkan jenazah keluarganya harus melakukan dengan usaha ekstra hati-hati, supaya jenazah yang dibawa tidak oleng atau jatuh. Sebagian orang yang tidak terbiasa mendaki Gunung Pangilun, untuk mencapai puncaknya merupakan suatu perjuangan cukup berat. Para pendaki harus dengan cara merangkak. Kalau posisi kurang seimbang, maka bisa jatuh ke bawah. Kendati cukup susah, kondisi demikian bagi penduduk setempat merupakan hal yang lumrah, karena tanah di Gunung Pangilun itu merupakan peninggalan nenek moyangnya. Sehingga untuk pemakaman mereka mau berbuat apa saja. Kini kondisi Gunung Pangilun tidak seperti itu lagi. Di gunung itu telah terdapat tangga untuk naik ke puncak. Tangga itu merupakan hasil karya dengan bergotong royong masyarakat bersama 40 taruna Akpol dan Akmil yang mengikuti program Latsitarda Nusantara XXIX, Oktober 2008. Pengerjaan tangga itu memakan waktu satu bulan. Rencana awal pengerjaan tangga itu bagi Pemerintah Kota (Pemko) Padang untuk shelter, tempat evakuasi dari ancaman tsunami. Ternyata tangga yang dibuat sebanyak tiga tempat itu memiliki potensi tambahan dan tak kalah hebatnya untuk warga setempat. Tangga itu berada di sebelah selatan dengan 138 jumlah anak tangga, dari arah utara sebanyak 158 anak tangga dan dari arah barat 131 anak tangga. Tangga tersebut membantu pendaki ke puncak Gunung Pangilun. Tempat tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi yang sampai di puncak 70 meter dpl tersebut. Di puncak gunung itu pendakinya dapat melihat hamparan pemadanganan seluruh bangunan yang terletak di Kota Padang. Jejeran bangunan yang beranekaragam itu memberikan kepuasan tak terungkapkan. Semenjak keberadaan tangga yang digunakan sebagai shelter, puncak Gunung Pangilun nyaris tidak terdapat pemukiman warga di atasnya itu, kini dimanfaatkan beberapa warga setempat untuk mendirikan lapak-lapak warung yang menyediakan makanan dan minuman bagi orang yang berada di puncak Gunung Pangilun. Jumlah kedai atau lapak itu sebanyak lima buah. Suatu kali penulis mencoba mendaki Gunung Pangilun tersebut. Saat itu penulis naik dari tangga di sebelah selatan. Tangga itu berjumlah 138 anak tangga. Di anak tangga 15 pertama, di sisi kiri kanan tangga itu terdapat sekitar 400 batang pohon mahoni dan malinjo. Menariknya, sebagian bibit yang baru ditanam itu diberi merek orang uang menanamnya. Penanam pohon itu di antaranya, bertuliskan Kajati Sumbar, Danrem 032 Wirabraja, Kapolda Sumbar, Ketua DPRD Sumbar dan beberapa pejabat unsur Muspida di Kota Padang dan Provinsi Sumbar. Adanya bibit pohon itu ketika kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan Korem 032 Wirabraja, Sabtu (16/10). Setelah sampai di anak tangga ke-138, pendaki bertemu dengan jalan tanah setapak datar. Jalan itu menuntun pendaki ke arah selatan. Di ujung jalan itu pendaki bertemu dengan jalan layang. Lebar jalan itu sekitar tujuh meter. Jalan layang tersebut terhubung dari kaki Gunung Pangilun yang terletak tidak jauh dari anak tangga pertama di sebelah selatan. Menurut pengakuan Amirudin, 40, salah seorang putra daerah Gunung Pangilun, jalan layang itu pergunakan untuk mobil ambulance yang mengantarkan jenazah ke atas Gunung Pangilun. Jalan layang itu melingkar nan landai dari arah selatan melewati hingga ke bagian timur Gunung Pangilun. Ujung jalan itu sampai di puncak Gunung Pangilun. Di puncak gunung yang diambilkan namanya nama salah seorang tokoh ledenda bernama Pangilun itu, pendaki yang merasa kelelahan tidak harus cemas kehausan. Di puncak itu terdapat lima warung lapak-lapak, menjual minuman dan makanan ringan. Beni, 27, salah seorang pedagang di puncak Gunung Pangilun mengatakan, ia memulai usaha berdagang di puncak Gunung Pangilun semenjak jalan layang itu selesai. “Kita sudah tiga bulan berjualan di sini,” ujar Beni. Dikatakan pria bujang itu, puncak Gunung Pangilun ramai dikunjungi pendaki ketika sore hari, hari libur dan minggu pagi. Umumnya pendaki itu berasal dari warga sekitar Kota Padang dan sekitar kawasan Jalan Gajah Mada. Maksud kedatangan pelancong itu tidak lagi untuk menikmati kenikmatan memadangi pemadangan Kota Padang. Di puncak Gunung Pangilun, para pelancong dapat melihat pemandangan ke delapan penjuru angin. Di sebelah timur, pelancong dapat memandangi Bukit Karang Putih, sumber bahan baku PT Semen Padang, deretan Bukit Barisan, kampus Universitas Andalas, dan beberapa pemandangan yang tak kalah menarik pula. Di arah timur juga demikian, hamparan Gunung Padang yang berujung ke Bukit Putus memberikan kenikmatan alam nan hijau. Bila pelancong bosan melihat pemandangan bernuansa hijau, hamparan pemandangan laut berlapisan jejeran bangunan rumah dan perkantoran, cukup dengan memutar arah pandangan ke barat. Selain tenangan arus gelombang laut, jejeran pulau kecil memberikan kesan manis di laut. Di bagian utara juga tak kalah indahnya. Di pemadangan di sebelah utara lebih memadukan unsur hijau dan kesibukan Kota Padang. Di arah itu, selain deretan Bukit Barisan, juga hamparan perumahan penduduk dan kantor instansi perintah dan swasta. Ditambahkan Beni, dulu sebelum bandara masih di Tabing, puncak Gunung Pangilun seakan ditimpa pesawat yang hendak mendarat di pelabuhan udara tersebut. Bahkan dari puncak gunung itu, pelancong dapat melihat secara jelas lintasan pacu Bandara Tabing. Dahnibar, 51, salah seorang pedagang lainnya di puncak Gunung Pangilun mengatakan selain warga umum yang datang ke puncak Gunung Pangilun, setiap sekali seminggu, siswa dari MAN 2 Padang juga melakukan kegiatan olahraga di situ. Saat penulis turun dari puncak Gunung Pangilun, penulis memilih melewati tangga sebelah barat. Di arah itu jumlah anak tangganya 131 buah. Sebelum sampai di tangga itu, masih di kawasan puncak Gunung Pangilun arah ke barat, pelancong juga disuguhkan dengan benda bersejarah peninggalan masa penjajahan, lobang Jepang. Di atas itu terdapat lima buah lobang Jepang. Tiga dari lima lobang itu, bagian atasnya sudah hancur. Menurut Dahnibar, karena kena eskalator saat proses pendataran puncak Gunung Pangilun. Kini lobang itu tidak bisa dimasuki, karena telah ditimbuni tanah. “Kalau pemerintah ingin menggarap lobang ini, maka bisa dijadikan sebagai sumber objek wisata tambahan lainnnya. Berdsarkan cerita yang didapatkan Dahnibar dari keluarganya terdahulu, di dalam lobang itu terdapat banyak ruangan. Ruangan itu digunakan para tentara Jepang untuk lari pengejaran sekutu dan pejuang Indonesia. Lurah Gunung Pangilun Refrizal mengatakan kawasan itu nantinya memang dijadikan sebagai objek pariwisata. Objek itu nantinya akan dikelola oleh masyarakat bersama unsur mamak wali nagari. “Pengelolaannya diatur dengan sebuah lembaga usaha tersendiri,” ujar Refrizal. Sementara itu, Amirudin, 40, salah putra asli Gunung Pangilun mengatakan, dengan adanya shelter itu, Gunung Pangilun bisa memberikan dampak positif kepada warga sekitar, khususnya di bidang ekonomi. “Gunung Pangilun merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Padang Utara, yang masih dihuni penduduk asli. Sehingga tatanan budaya lokal masih dapat dikembangkan dengan baik. “Semoga pelancong yang datang ke puncak Gunung Pangilun mendapatkan kebahagian tersendiri menikmati pemandangan yang ada,” ujar Amirudin mengakhiri. ***

h1

9 Ribu Jamaah Naqsabandiyah Shalat Id

Desember 28, 2008
Minggu, 07 Desember 2008
Padang, Padek—Meski pemerintah menetapkan hari raya Idul Adha 1429 H, Senin (8/12) besok, sebagian umat Islam, pengikut aliran Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang telah merayakan Idul Adha 1429 H, Sabtu (6/12). Hal yang sama juga dilaksanakan 9 ribu jamaah di 30 surau Naqsabandiyah yang tersebar di kabupaten/kota yang ada di Sumbar.

Pantauan Padang Ekspres di Mushalla Baitul Makmur di Jalan M Hatta, Kelurahan Cupaktangah Kecamatan Pauh dan Surau Baru di Jalan M Hatta, Kecamatan Pauh, tepatnya di belakang kompleks Polsek Pauh, pukul 08.00 WIB ratusan pengikutnya sudah merayakan hari lebaran kurban.

Diawali dengan Shalat Id di surau dan dilanjutkan penyembelihan beberapa ekor hewan kurban. Syafri Malin Mudo, 68, salah seorang pengikut aliran Tarekat Naqsabandiyah dan sekaligus Imam di Masjid Baitul Makmur mengatakan, pengikut Tarekat Naqsabandiyah selalu melakukan perayaan hari kurban lebih awal dari umat Islam lainnya. Namun ia menegaskan pelaksanaan Idul Adha sudah berdasarkan proses hisab dan rukyat.

Syafri Malin Mudo yang sudah menjadi imam tetap di Mushalla Baitul Makmur sejak tahun 1960-an juga mengatakan saat ini jamaah Naqsabandiyah sudah berjumlah sekitar 9 ribu orang.  Jamaah tersebut tersebar di Padang, Kota  Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung dan Solok. Di Kota Padang pengikutnya banyak tersebar di kawasan Lubuk Kilangan. Khusus di Ranah Minang ajaran ini dibawa pertama kali oleh Tengku Syech Ismail sebelum tahun 1800-an.  Di Padang khususnya di Pauh tahun 1806, yang dibawa langsung oleh Syech Muhammad Thaib.

Usai menyelenggarakan shalat ied sebanyak dua raka’at, dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua, jamaah melanjutkan penyembelihan hewan kurban berupa kambing sebanyak empat ekor. Hasil sembelihan kurban tersebut dibagikan tidak hanya kepada pengikut aliran Naqsabandiyah tetapi beberapa umat Islam di sekitar mushalla juga mendapat bagian.  Kondisi serupa juga terlihat di Surau Baru yang terletak di belakang Polsek Pauh, Padang. Sebagai surau tertua yang menjadi basis penyebaran ajaran Naqsabandiyah, ratusan pengikutnya melaksanakan shalad Id dengan khusuk. (i)

h1

Plasa Andalas Mulai Sepi Pengunjung

Desember 28, 2008

Jumat, 12 Desember 2008 Padang, Padek— Plasa Andalas (PA) kini mulai sepi pengunjung. Ini disebabkan matinya pendingin ruangan (AC), pascapemutusan arus listrik oleh PLN. Sejumlah pemilik toko (tenant) berharap Pemko dapat memfasilitasi pihak PA dan PLN untuk mengatasi masalah saat ini yang terjadi di PA. “Sudah hampir satu pekan hal ini terjadi. Jangankan ada transaksi, pengunjung saja sudah mulai sepi,” tutur Sekretaris Asosiasi Pedagang Plasa Andalas (APPA) Ramon Pratama. Udara di dalam PA kini, sama panasnya dengan udara di luar PA. Namun demikian, para tenant tetap saja bertahan, tidak menutup toko. “Untuk mengantisipasi suhu panas di dalam PA, para pedagang saat ini banyak menggunakan kipas angin,” tambah Ramon. Ia berharap PT Inti Griya Prima Sakti (IGPS) sebagai pengelola PA untuk berniat baik untuk menambah genset yang ada. Para pedagang tidak mau rugi akibat kisruh antara pengelola dengan PLN. Mereka telah melaksanakan kewajibannya sesuai aturan, bahkan tepat waktu. Lebih lanjut Ramon mengatakan dalam kontrak kerjasama pedagang mendapatkan hak-hak didapatkan pedagang baik sebagai penyewa atau pedagang yang membeli toko, mendapatkan aliran listrik untuk penerangan dan kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan listrik, pendingin ruangan (AC), mendapatkan keamanan untuk menciptakan kenyamanan pada pedagang dan pengunjung, dan pelayanan kebersihan dari pengelola. “Supaya keadaan seperti ini berlarut-larut, kita berharap Wali Kota untuk melihat kondisi sebenarnya yang terjadi di PA. Dengan cara itu, Pemko dapat melakukan upaya yang tepat menyelesaikan masalah ini,” ujarnya. Sementara itu, Neng, 22, salah seorang karyawan counter di lantai satu PA kepada Padang Ekspres membenarkan sepinya pengunjung PA oleh karena matinya AC. “Kini, pengunjung tidak tahan berlama-lama di dalam PA,” ungkapnya. (i)

h1

Menyambut Tahun Baru Islam di Masjid Maryam

Desember 28, 2008
Minggu, 28 Desember 2008
Padang, Padek—Dalam hadist yang diriwayatan Muslim, Rasulullah Muhammad SAW berkata, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya” (HR Muslim).

Hal itu sangat dirasakan Sahril Anwar, 63, warga Kelurahan Ranah Parak Rumbio. Pria gaek itu tidak dapat menyimpan rasa haru ketika menghadiri acara penutupan kegiatan agama dalam peringatan pergantian tahun baru Hijriyah 1430 di Masjid Maryam, di Ranah Parak Rumbio, tadi malam (27/12).

Sahril menyeka air matanya, karena Masjid Maryam tempatnya memperingati pergantian tahun Islam itu dirayakan begitu meriah. Santri-santri di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) menggelar kegiatan keagamaan di sana. Masjid Maryam merupakan masjid peninggalan almahurmah ibunya Hj Maryam.

Sebelum masjid itu berdiri di tengah pemukiman warga Parak Rumbio, masjid itu dulunya sebuah rumah tempat kelahiran Sahril Anwar bersama lima orang saudaranya yang lain. Di rumah itulah ia dibesarkan.

Setelah ibunya Maryam wafat tahun 1999, rumah itu nyaris tidak dimanfaatkan sebagai tempat berteduh keluarga. Sebab, Sahril bersaudara telah mengadu peruntungan di rantau orang. Agar rumah itu tidak menjadi sia-sia, ia menunaikan wasiat ibunya untuk menyulap rumah menjadi masjid. Namanya pun diambil dari nama almarhumah ibunya, Maryam.

Masjid Maryam berdiri di atas tanah seluas seribu meter persegi. Masjid itu dibangun sejak tahun 2001 bersama warga Kelurahan Ranah Parak Rumbio. “Dulunya di Ranah tidak ada masjid. Warga banyak menunaikan ibadah di tempat lain. Biar warga sekitar Ranah Parak Rumbio tak perlu jauh-jauh menunaikan ibadah, maka didirikanlah masjid ini,” ucapnya.

Untuk mendukung kesuksesan pendirian dan pendanaan masjid, Sahril bersaudara bersama warga setempat mendirikan Yayasan Maryam. Yayasan itu nantinya menjadi lembaga untuk mengurus masjid dan kegiatan di dalam masjid.

“Saya berharap di masjid Maryam ini banyak dilaksanakannya kegiatan keagamaan. Masjid ini tidak hanya sekadar tempat shalat, akan tetapi juga sebagai tempat pusat kegiatan keagamaan. Titik terakhirnya di sini ada perpustakaan, lembaga pendidikan. Bahkan tidak mustahil nantinya di masjid ini juga terdapat Islamic Center,” harap putra kedua Almarhumah Maryam.

Ia berharap Masjid Maryam terus dirawat olah warga Ranah Parak Rumbio, Kecamatan Padang Selatan. Pada acara puncak perayaan penyambutan tahun baru 1 Muharram 1430 Hijriyah itu Mahyeldi Ansarullah didaulat sebagai ustadz untuk memberikan tausiyah kepada seluruh jamaah. Juga tampak hadir dala kegiatan tersebut Hasnah Cendra Dewi, tokoh perempuan dari Padang Selatan, yang juga  caleg Partai Golkar dari daerah pemilihan Padang Timur, Padang Selatan dan Bungus Teluk Kabung.

Selama kegiatan itu berlangsung, para santri-santri MDA dengan semangatnya melantunkan Asmaul husna untuk membesarkan nama-nama Allah. Perayaan tahun baru Islam ini mestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri bagi anak muda dan umat Islam secara keseluruhan. Apalagi pergantian tahun baru ini berdekatan tahun Masehi. (i)

h1

19 Preman Bundaran Pasar Raya Dijaring

Desember 28, 2008

Minggu, 28 Desember 2008 Padang,

Padek—Sedikitnya 19 orang preman dijaring jajaran Poltabes Padang di kawasan bundaran depan Masjid Taqwa Muhammadiyah, Sabtu (27/12). Preman tersebut, diduga terkait sebagai pelaku kejahatan jalanan (street crime) di sekitar TKP. Salah seorang di antaranya terpaksa diproses lebih lanjut karena terlibat pemungutan liar (pungli) parkir. Selain di kawasan bundaran depan Masjid Taqwa Muhammadiyah, polisi juga menjaring preman di sekitar kawasan Pasar Raya, Padang. Rata-rata preman yang dijaring jajaran Poltabes Padang itu berprofesi sebagai pengangguran dan agen-agen angkutan kota (Angkot) di sekitar TKP. Beberapa dari preman itu memiliki tubuh yang dipenuhi tato. Kapoltabes Padang Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan mengatakan aksi pembersihan preman merupakan salah satu program utama dari Kapolri. Untuk itu seluruh jajaran kepolisian di Indonesia harus menindaklanjuti hal tersebut. Dari data Padang Ekspres sebelumnnya operasi preman di bulan November Poltabes Padang telah mengamankan 101 orang preman, sedangkan selama Desember 2008 total preman diamankan telah puluhan orang. Lebih lanjut Boy Rafli Amar mengatakan seluruh preman yang dijaring polisi akan didata dan diberi pembinaan. Bagi preman yang terjaring dan terindikasi melakukan tindakan pidana, maka ia akan diproses lebih lanjut. “Data base tindakan kejahatan itu akan dijadikan bahan melakukan aksi pembersihan. Jika di lain waktu mereka yang sudah terdata pernah melakukan tindakan kriminal mengulangi perbuatannya, maka polisi akan lebih mudah meringkusnya,” kata Boy Rafli yang juga mantan Direktur Reskrim Polda Maluku Utara itu. Selain menjaring preman di kawasan Pasar Raya, lanjut putra Agam itu, polisi juga memfokuskan pembinasaan premanisme secara bertahap dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Jika salah satu kawasan sudah bersih dari aksi preman akan digeser ke kawasan lain sehingga ruang aksi premanisme semakin sempit. Boy Rafly mengaku jumlah premanisme di Kota Padang tidak separah kota-kota lain. Ia berharap masyarakat ikut berperan memberikan informasi pada polisi agar pemberantasan premanis bisa lebih cepat dilakukan. Anton Fernando, 26, warga Terandam, Kecamatan Padang Timur, salah seorang preman yang dijaring Poltabes Padang mengatakan ia terjaring saat berada di kawasan parkiran Matahari Departemen Store (MDS). Pemuda yang tubuhnya sudah dibaluti tato sejak umur 12 tahun itu merasa bukan preman, karena tidak pernah melakukan tindakan kejahatan. (i)

h1

Tinjau Kembali UU BHP

Desember 28, 2008
Jumat, 26 Desember 2008
Padang, Padek—Ratusan mahasiswa Universitas Andalas (Unand) menolak Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) di halaman Gedung DPRD Sumbar, Rabu (24/12). Penolakan itu dilakukan dengan longmarch dari kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Lolong menuju gedung bundar tersebut. Kedatangan para mahasiswa  itu hanya disambut Sekretaris DPRD Sumbar Nasral Anas.

Sebelum berada di halaman DPRD Sumbar, para mahasiswa melakukan aksi longmarch  dari depan TMP Lolong Padang. Pada aksi itu mereka terus menyuarakan penolakan terhadap UU BHP. Mahasiswa menganggap UU BHP bentuk lain melegalkan komersialisasi pendidikan pada rakyat. Para pengunjuk rasa mendukung dilakukannya peninjauan kembali terhadap UU BHP, dan mendesak perealisasian anggaran pendidikan dalam APBN.

Aksi penolakan yang dipimpin Presiden BEM Unand Hanif Dwi Putra itu mengundang perhatian seluruh pengguna jalan lalu lintas di Jalan S Parman. Aksi tersebut mengakibatkan kemacetan beberapa puluh meter. Dalam aksinya di depan halaman DPRD Sumbar, hanya ditanggapi Sekwan Nasral Anas. Sementara, anggota DPRD Sumbar sendiri tidak berada di gedung bundar. Semula para mahasiswa tidak percaya. Setelah dijelaskan Sekwan, anggota DPRD sedang reses di daerah pemilihan, barulah mahasiswa dapat memahaminya.

Selain itu, dalam aksi damai yang dilakukan BEM Unand, mereka juga menggelar aksi teaterikal tentang seorang pejabat pemerintah menanggapi aksi mahasiswa yang menolak UU BHP. Kendati demikian, mahasiswa tetap mendesak Nasral Anas menandatangani penolakan yang disampaikan mahasiswa. Usai penandatangan itu, para demonstran kembali ke kampusnya menggunakan bus kampus Unand. (i)

h1

Kasus Jambret Diserahkan ke Denpom

Desember 28, 2008
Jumat, 26 Desember 2008
Padang, Padek—Tindak lanjut kasus penjambretan di Jalan A Yani terhadap korban, warga sipil dan penganiayaan yang dialami anggota Polisi Lalu lintas (Polantas) dari jajaran Poltabes Padang, Senin (22/12) malam, diserahkan sepenuhnya kepada Detasemen Polisi Militer  I/4 Bukit Barisan (Denpom I/4 BB) Padang.

Kapoltabes Padang Kombes Boy Rafli Amar yang dihubungi Padang Ekspres mengatakan kasus tersebut terjadi di kawasan TNI AD Kompi C Siteba, maka pengungkapan kasus itu diserahkan sepenuhnya kepada jajaran Denpom. “Kami menunggu hasil pemeriksaan dari Denpom. Apabila tersangkanya telah dipastikan orang sipil, maka penyelidikan kasus tersebut dikembalikan kepada Poltabes Padang,” tutur Kombes Rafli Amar.

Untuk mendukung penyelidikan kasus itu, lanjut Boy Rafli,  Poltabes Padang akan memberikan informasi pendukung kepada Denpom, seperti halnya data yang terkait dengan korban dari sipil. Korban sipil itu saat usai kejadian langsung melaporkan ke Poltabes Padang.

Korban jambret tersebut Renata, 23, warga kompleks Banuaran Indah Blok J No 1, Kecamatan Lubuakbegalung. Waktu itu barang-barang milik korban berupa dua HP, dan uang tunai Rp360 ribu raib direbut pelaku. Korban yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu mengalami kerugian senilai Rp1,7 juta.

Jajaran Poltabes Padang saat ini hanya bisa menunggu hasil penyelidikan dari jajaran Denpom. Boy Rafli berharap penyelidikan tersebut dapat tuntas dengan waktu lebih cepat. Sebab, kasus itu tidak hanya mengakibatkan anggotanya yang menjadi korban, melainkan warga sipil.

Ketika ditanya kondisi Bripda Novika Toni, korban penganiayaan sejumlah oknum TNI itu hingga kemarin masih dirawat intensif di ruang Tulip II-1 RS Yos Soedarso Padang. Dikatakan Boy Rafli, saat ini ia menyerahkan perawatan terhadap anggota itu kepada dokter ahli. Pasalnya, korban yang saat ini bertugas di jajaran Satlantas itu mengalami luka di beberapa bagian tuhbu, seperti luka di bagian rahang. “Kami berharap Bripda Novika Toni dapat kembali pulih. Saat ini kondisi korban sudah mencapai 70 persen,” tambah Boy Rafli.

Wartawan-Korban Penganiayaan Diperiksa

Secara terpisah, tiga wartawan, korban penganiayaan oknum personil TNI AD di Kompi C Siteba, diperiksa Tim Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/4 Bukit Barisan (BB)  Padang, Kamis (24/12). Pemeriksaan ketiga wartawan yang diperiksa di ruangan Lak Idik itu memakan waktu sekitar dua jam lebih.

Ketiga wartawan korban penganiyaan itu, Tommy De Raffers, 43, wartawan RTCI, Budy Sunandar, 25, wartawan Global TV, dan Riyan Taufik, 23, wartawan ANTv. Rata-rata pertanyaan disampaikan penyidik kepada mereka berkisar tentang kronologis kejadian yang mereka ketahui dan dialami. Seperti  halnya Tommy De Raffers, ia diperiksa oleh penyidik dengan 20-an pertanyaan, Budy Sunandar sebanyak 14 pertayaan dan Riyan Taufik dengan 8 pertayaan. Para korban itu hadir di ruangan penyidik sejak pukul 09.00 WIB.

Saat Padang Ekspres berada di ruangan pemeriksaan itu bersama wartawan lainnya, suasana di Markas Denpom I/4 BB Padang terlihat sepi dan tenang. Para wartawan diantar oleh personil Denpom ke ruangan pemeriksaan, tempat ketiga jurnalis televisi itu memberikan keterangan. Wajah para korban tampak tenang dan tegar menghadapi proses penyidikan. Hal itu dilakukan demi menegakkan keadilan terhadap wartawan.

Sebagaimana dikatakan Ryan, ia merasa belum dengan proses yang dijalani. Wartawan yang sehari-hari bekerja di ANTv itu berharap pelaku penganiyaan terhadap dirinya dan dua orang korban lainnya itu diadili dan ditindak tegas.

Penyidik di Denpom I/4 BB Padang ketika dimintai komentar oleh wartawan enggan berkomentar. Ia menyarankan untuk meminta konfirmasi langsung kepada Komandan Denpom Letkol (CPM) Dono Kuspriyanto. Ironisnya ketika orang nomor satu di Denpom I/4 BB Padang itu tidak berada di markasnya, beberapa anggotanya mengatakan Dono berada di Makorem 032/Wirabraja.

Akhirnya para wartawan yang terdiri dari cetak dan elektronik memburu Dono Kuspriyanto ke Makorem. Malangnya ketika puluhan wartawan berada di gerbang makorem, ternyata dihadang salah seorang personil TNI AD, Kapten Sukiran P. Ia mencegat wartawan masuk ke markasnya, meskipun meminta izin.

Ketika di tempat itu, wartawan yang biasanya masuk dari pintu belakang terpaksa balik kanan, karena pintu tersebut tertutup. Kemudian para pemburu berita tersebut masuk dari pintu depan. Di tempat tersebut datanglah Kapten Sukiran melarang masuk ke dalam makorem. “Wartawan dilarang masuk masuk dengan kondisi saat ini. Komandan tidak di tempat. Saat ini kondisi belum konsusif,” tutur perwira berbaju loreng itu dengan garang.

Pada saat itu wartawan mencoba memberikan pemahaman padanya. Kedatangan wartawan hanya sekadar untuk meminta konfirmasi dari Denpom Lekol (CPM) Dono Kuspriyanto atau Danrem Kolonel Danu Nawawi. Akan tetapi, maksud baik itu dibalas dengan nada ketegangan dan pengusiran. “Keluar, kalian dilarang masuk,” ujar Kapten Sukiran dengan wajah semakin tegang.

Dalam kondisi seperti itu puluhan anggota TNI AD di Korem 032 Wirabraja keluar dan menghadang para wartawan. Bahkan salah seorang darinya telah memegang senjata laras panjang. Akhirnya dengan penjelasan tidak memuaskan itu para wartawan undur diri.

Sebagaimana diberitakan Padang Ekspres, Bripka Novika dianiaya oknum TNI saat mengejar jambret yang lari ke kompleks TNI Kompi C Batalyon 133/ Yudha Sakti. Saat Bripka Novika hendak menangkap pelaku, sekitar 20 orang oknum TNI tiba-tiba menghalaginya dan memukulnya hingga mengalami cedera parah di bagian rahang dan pelipis.

Bukan hanya Novika, sejumlah wartawan media elektronik yang meliput aksi kejar-kejaran antara Novika dan penjambret itu, juga kena imbas amukan puluhan oknum TNI itu. Budi Sunandar, Wartawan Global TV mengalami luka memar di bagian matanya, sedangkan Tommy J, Wartawan RCTI dan Rian Taufik, Kameramen ANTV juga sempat ditodong dengan senjata api oleh puluhan oknum aparat berbaju loreng tersebut. (i)