h1

Fenomena di Bukit Lampu, “Motornya Ada, Orangnya Mana?”

Juni 5, 2008
nikmati sunset di pantai PadangKamis, 05 Juni 2008
”Motornya banyak, orangnya mana?”. Penggalan pertanyaan ini terucapkan oleh beberapa warga perantauan bersama Padang Ekspres di dalam sebuah mobil. Kalimat itu terucap secara tak sengaja dari sebuah celutukan tanpa sadar. Akan tetapi ungkapan itu cukup menggelikan pendengarnya, jika diinap-inapkan agak lama.

Celutukan menyeleneh ini timbul atas sebuah guratan pikiran Padang Ekspres bersama perantau tersebut ketika berada di kawasan Bukik Lampu Bungus. Ketika itu rombongan pergi jalan-jalan ke kawasan perbukitan arah selatan Kota Padang, persisnya sekitar kawasan pantai Caroline.

Bagi wisatawan yang pertama kali datang ke Padang, saat menuju kawasan pantai Caroline akan disuguhi hamparan birunya lautan Teluk Bayur dan dihiasi pulau kecil yang membuat decak kagum. Belum lagi kesejukan angin membuat wisatawan terkantuk-kantuk. Namun, keindahan alam itu, sedikit mengkerlipkan mata wisatawan saat melihat jejeran kafe ataupun warung. Di kafe itu sedikit kelam tanpa jelas orangnya. Akan tetapi di halaman parkirnya terdapat beberapa kendaraan sepeda motor diparkir dengan rapi.

Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggelikan. “Motornya banyak, orangnya mana?” Saat itu Padang Ekspres bertanya kepada salah seorang warga di sekitar lokasi tersebut. Mereka dengan santai menjawab, tempat ditutupi dengan berparkirnya beberapa jejeran sepeda motor tersebut adalah kafe. Namun kafe itu hanya dikunjungi pasangan anak muda. “Kafe itu sangat bagus, Pak. Karena dari kafe itu kita bisa melihat keindahan hamparan laut menawan,” terang Jon (25).

Menurut laki-laki itu, di kafe tersebut pengunjungnya hanya dilayani dua kali oleh pelayan. Pertama, saat pengunjung baru datang. Kemudian pelayan kafe menawarkan minuman atau makanan keinginan tamu. Pesanan datang dengan cepat. Sehingga tidak menimbulkan kebosanan dari tamu melahap santapan pesanannya. Setelah itu pelayan kafe tidak lagi muncul menghampiri.

Di kafe itu, antara satu pengunjung dengan pengunjung lain tidak saling terganggu, dibuat pembatas seperti sekat-sekat yang nyaris tidak kelihatan antarpengunjung satu dengan pengunjung lain. Sehingga pengunjung dapat berbuat sepenuh hati di tempatnya duduk. Seperti ingin berbicara berbisik, ngobrol terkekeh atau bercerita dengan aura-aura kegenitan. Sebab rata-rata pengunjung kafe itu pasangan anak muda yang ingin menghabiskan hari-harinya menjelang sore.

Menurut “Bn” (24) salah seorang pelayan kafe di kawasan Sungai Barameh mengatakan nilai itu tidak sebanding dengan apa dilakukan pengunjung selama berada dalam kafe. Pihak kafe memberikan pelayanan sepuasnya kepada pengunjung menduduki tempatnya tanpa batas waktu. Sehingga pengunjung dengan sepuasnya berada di tempat itu beserta apa saja yang dilakukan. Biasanya kafe kawasan ini lebih ramai menjelang matahari terbenam dan senja menjelang tengah malam. Sedangkan hari-harinya lebih banyak dikunjungi di akhir pekan dan libur panjang. (ilham safutra)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: