h1

Kesenian Tradisional tak Ditinggalkan

Juni 11, 2008
Jumat, 30 Mei 2008
Padang, Padek— Kesenian kotemporer bukan kesenian yang menghancurkan roh-roh kesenian tradisional. Sebab kesenian ini selalu dipakai penikmatnya dan tidak pernah ditinggalkan. Hal itu diungkapkan pimpinan Nan Jombang Grup Ery Mefri saat penampilan pentas pembuka Nan Jombang kembali ka nagari di Taman Budaya Sumbar, kemarin. Koreografer ini berharap masyarakat tidak usah lagi malu menikmati kesenian-kesenian tradisional. Sebab kesenian itu adalah nyawa kesenian kotemporer.

“Selama ini penikmat seni selalu memburu hal-hal kotemporer. Sebab jenis kesenian ini dianggap sebagai kesenian kelas tinggi. Namun tidak banyak orang menyadari kesenian kontemporer itu berasal dari kesenian tradisional,” ungkapnya. Untuk itu, tambah Ery, Nan Jombang melakukan program kembali ka nagari untuk membangun intelektual kampung halaman dengan kesenian tradisional. Dan memperkenalkan kesenian-kesenian yang dianggap kuno bagi masyarakat, tapi sangat elegan dengan kekontemporerannya.

Sebelas orang personil Nan Jombang grup menampilkan koreo yang berjudul Karatau Madang di Ulu, kemarin. Tari tersebut pernah ditampilkan pada Urban dance Festival di Goethe Hause Dewan Kesenian Jakarta. Judul tari yang diambil dari sebuah pantun Minang Karatau Madang di Ulu, babuah bangu balun, marantau bujang daulu di rumah paguno balun. Pantun tersebut menggambarkan sikap orang Minang yang suka merantau.

“Selama ini setiap orang minang yang merantau selalu berhasil. Akan tetapi setelah keberhasilannya itu dicapai, tidak banyak yang pulang untuk membangun kampungnnya. Untuk itu, kita sebagai orang Minang setiap berhasil di rantau orang agar kembali ke kampung untuk membangunnya,” keluhnya.

Dalam penampilan tari itu, koreo yang ditampilkan lima orang anak kandung Ery Mefry mengkolaborasikan kesenian tradisional Minangkabau dengan pengolahan yang modern. Di antaranya perpaduan antara silat, randai, dan salawat dulang. “Dari penampilan itu kami tidak merusak yang tradisionalnya. Malahan kami menggarapnya lebih modern agar dapat diterima dan dimengerti oleh penonton. Sehingga penonton selain merasa terhibur, juga mengembalikan paradigma lamanya terhadap kesenian yang mengandung nilai-nilai kotemporer tinggi,” tutupnya.(ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: