h1

Tiap Tahun, KAI Rugi Rp20 M

Juni 11, 2008
Selasa, 10 Juni 2008

“Trisna: Kita Sudah Meminimalisir Kerugian”
Padang, Padek—PT Kareta Api (KA) Divre II Sumbar sejak dua tahun terakhir mengalami kerugian Rp20 miliar setiap tahunnya. Sebab, sejak beberapa tahun terakhir kareta api kebanggaan urang awak tersebut tidak lagi beroperasi melayani transportasi pengangkutan batu bara dari Sawahlunto. Mantan Kadiv II Sumbar Trisna Djaja mengatakan itu dalam acara kenal pamit pimpinan PT KAI Divre II Sumbar lama dengan Kadiv II Sumbar yang baru, Husen Nuroni kemarin.

Kepada wartawan Trisna mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk meminimalisir kerugian tersebut. Tahun lalu, kerugian KAI Sumbar telah berkurang menjadi Rp19 miliar. ”Untuk mengurangi itu, ke depan pimpinan KAI Sumbar mesti kreatif dalam pengoperasian kereta api. Apalagi banyak yang bisa dilakukan di Sumbar untuk membangun transportasi kereta api. Hanya saja semua itu mesti didukung pemerintah daerah. Apalagi selama ini Sumbar kaya dengan alam wisatanya,” ungkapnya, didampingi Husen Nuroni dan Kaur Humas Syaful Romeo.

Ia berharap, pemerintah daerah mau membawa investor ke Sumbar. Sebab melalui investor, kereta api dapat berbuat banyak. Trisna mencontohkan keberadaan Pelabuhan Teluk Bayur. ”Teluk Bayur merupakan salah satu pelabuhan di pantai barat Indonesia yang mampu berhubungan dengan Eropa dan Asia. Selain itu dengan antarprovinsi di Indonesia. Jika tempat itu memiliki tingkat operasi yang tinggi, maka kereta api dapat memberikan fasilitas trasportasi kepada masyarakat Sumbar untuk jalur perkeretaapian.

Lebih jauh Trisna mengakui, KAI sebagai alat transportasi jarak jauh dan membawa secara masal. “Kita mesti melakukan pengoperasian jarak jauh dengan jumlah nagkutan yang banyak. Besar atau kecilnya beban yang diangkut kereta api, biaya operasionalnya sama,” terang Trisna yang akan menjabat Kepala KAI Divre I .

Akibat Pintu Perlintasan Liar

Selain itu, berkaitan dengan seringnya terjadi kecelakaan di pintu perlintasan kereta api baru-baru ini, dinilainya akibat kereta api banyak melewati tempat pemukiman masyarakat. ”Jumlah perlintasan kereta api yang dilengkapi dengan pintunya, hanya sepuluh buah. Sedangkan sisanya (mencapai 500-an, red), liar. Sejatinya setiap perlintasan kereta api dilengkapi pintu. Namun itu terkait dengan biaya operasional. Untuk satu pintu KAI membutuhkan empat orang personil. Untuk itu biayanya sangat tinggi. Selain itu, izin pembangunan pintu pada perlintasan terdapat di tangan Dirjen Departemen Perhubungan,” beber Trisna diamini Husen.

Kemudian Husen juga menyesalkan adanya masyarakat yang memilih bertempat tinggal di pinggir pelintasan kereta api. ”Masyarakat yang tinggal tepi lintasan sangat berisiko tinggi terhadap keselamatan dirinya,” sesalnya. Ke depan PT KAI Divre II Sumbar masih menunggu realisasi janji pemerintah daerah yang akan memanfaatkan alat transportasi untuk menunjang pariwisata. Untuk diketahui, lintasan yang segera dibangun ke arah Padangpanjang. Ini terkait dengan dibukanya Minangkabau Fantasi.  ”Insya Allah akan dibuka tahun 2009,” tutup Trisna. (mg7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: