h1

Kawin Sasuku Bawa Penyakit Genetik

Juni 28, 2008

Rabu, 18 Juni 2008
Padang, Padek– Anak hasil perkawinan sasuku (sesuku), di Minangkabau akan mengakibatkan keturunan yang buruk laku. Semua ini sudah dibuktikan beberapa keturunan dari perkawinan sasuku sebelumnnya. Bahkan, secara ilmiah bila dideteksi dari tes Deoxyribonucleic Acid (DNA) juga menghasilkan individu secara genetika homozigot (seragam).

Demikian terungkap dalam diskusi pengujian DNA darah ditinjau dari dilarang kawin sasuku, di Gedung LKAAM Sumbar, beberapa waktu lalu. Menurut Dr Ir Gustian Ms, salah seorang pembicara, hasil perkawinan satu keturunan ini juga akan memunculkan anak- anak yang tidak normal.

Menurut Gustian, tes DNA berperan sebagai pengendali dan penentu sifat seseorang. Apakah sifat fisik seperti warna kulit, raut muka muka, maupun sifat psikologi (watak) dari seseorang seperti sifat lembut, pemarah, kriminal dan sebagainya. “DNA digunakan orang untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan seseorang dengan yang lainnya,” katanya.

Sementara pembicara lainnya, Alis Marajo Dt Sori Marajo dalam makalahnya menyimpulkan, kawin sasuku atau sapayuang adalah status yang tidak elok dan menimbulkan kesenjangan sosial, hingga berakibat terjadinya disporitas sosial di kalangan komunitas masyarakat Minangkabau.

“Pengujian DNA untuk perkauman bertali darah dapat mendeteksi penyakit-penyakit bawaan genetik,” tegasnya. Menurutnya, kawin sesuku tidak hanya mengakibatkan keturunan yang buruk, dan juga kesenjangan sosial di antara satu kaum.

Sedangkan Pelmizar Dt Batungkek Ameh yang juga tampil pada diskusi berpendapat, untuk menetapkan seseorang anak bukan berasal dari hubungan antara suami dengan istrinya tertentu, maka perkaranya menjadi kewenangan pengadilan agama.

“Tes DNA salah satu bukti dari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang medis dapat diterima sebagai salah satu alat bukti. Tentunya, di samping alat bukti lainnya,” jelasnya. Lain halnya dengan pandangan Ketua I LKAAM Sumbar Syamsul Bahri Khatib Bangso Rajo yang mewakili Karmadi Rais Dt Simulie, kawin sasuku yang kerap terjadi akhir-akhir ini disebabkan terjadinya penyimpangan perbuatan orang Minangkabua.

Semua ini akbiat kekurangan pengetahuan anak kemenakan tentang pengetahuan adat. “Budaya asing yang menyebabkan generasi sekarang kurang memahami bagaimana aturan perkawinan,” jelasnya didampingi Sekretaris LKAAM Sumbar M Sayuti Dt Rajo Pangulu.

“Dalam hal ini peran ninik mamak sangat dibutuhkan sekali. Ninik mamak selama di rumah mestinya memberikan pengarahan pada kemenakannya bagaimana keturunan ranjinya. Dengan mengetahui semua hal itu, maka kemenakan dapat menentukan sikap saat akan melepas masa lajangnya,” ingat Syamsul diamini Sayuti.

Acara ini merupakan kegiatan kedua LKAAM Sumbar tahun 2008. Sebelumnya LKAAM Sumbar melakukan diskusi tentang peran dendang dalam pendidikan anak usia balita. (mg7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: