h1

Amir Sampuraga Selama di LP Rohul, Riau, ”Tuhan, Jangan Cabut Nyawaku dalam Penjara”

Agustus 11, 2008
Sabtu, 26 Juli 2008
Tidak pernah terpikirkan oleh Amir Sampuraga (60), jika permainan KIM (pantun dan lagu yang memberikan hadiah pada penonton) bakal membawanya ke balik jeruji besi. Dia ditangkap dan dijerat hukuman setahun karena divonis melanggar Pasal 303 KUHP tentang Perjudian.

Di usia senjanya, Amir Sampuraga, penyanyi dan pencipta lagu Minang ini dihukum karena memandu hiburan judi jenis permainan KIM, sebuah permainan lagu dan pantun yang memberikan hadiah pada penonton. Ayah lima orang anak merasa tak sanggup menjalani hari-harinya di balik jeruji besi di rantau orang. Hingga ketaksanggupannya menjalani hukuman dicurahkannya ke dalam lirik lagu “Air Mata Penjara” dan “Hancur”.

Dua lagu berbahasa Melayu itu sempat dilantunkannya saat acara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II B Pasir Pangaraian, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau beberapa waktu lalu. Sampuraga, panggilan akrab di kalangan seniman Minang, seperti masih berusaha mengetuk pintu hati pemegang keputusan hukum dengan lagu tersebut. Kedua judul lirik itu dilahirkan Amir saat mendekam di LP, yang telah dilaluinya selama lima bulan hingga hari ini.

Kepada wartawan Padang Ekspres bersama rombongan terdiri atas musisi Minang Agus Thaher, An Roys, plus wartawan Padang TV, Sampuraga bercerita. Berawal ketika dirinya didaulat sebagai bintang tamu pada acara launching Kafe Bunglon di Jalan Garuda Kecamatan Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau, pada 11 Februari 2008. Tiba-tiba polisi datang dan membubarkan acara.

Dirinya ikut digelandang bersama pemilik kafe, Yosephendri (28), ke Mapolres Rokan Hulu. Kabarnya polisi membubarkan acara itu karena yang punya hajat tidak mengantongi surat izin keramaian. Saat di persidangan, Sampuraga yang semula statusnya sebagai saksi, berubah menjadi tersangka bersama si pemilik kafe, dengan dakwaan melanggar pasal 303 KUHP tentang perjudian. Akhirnya vonis satu tahun penjara diberikan hakim padanya.

Ia menganggap hukuman itu tidak adil baginya. Sebab dia hanya diminta mengisi acara. Sampuraga juga tak menyangka jika permainan KIM yang biasa dilakoninya di Sumbar itu, masuk kategori judi di Provinsi Riau. ”Saya hanya korban atas kejahatan pemilik kafe, Yosephendri. Padahal dulunya, waktu saya tanya, Yosephendri telah memastikan keamanan acara hiburan launching kafenya itu. Apa yang saya khawatirkan itu terjadi juga,” ujar pencipta lagu Kama Denai ka Batenggang itu, terbata-bata.

Penyanyi Minang era 1970-an itu terlihat tegar menjalani hukuman penjara yang masih bersisa tujuh bulan lagi. Ditambah pula kadar gula yang meningkat dan diabetesnya kambuh sejak mendekam di ruangan tanpa cahaya ini.

Saat rombongan memasuki sel, terlihat sel itu disulap menjadi ruang perawatan bagi Sampuraga yang semakin parah diabetesnya. Badannya semakin kurus dibalut kulit keriput. Dari kelopak matanya menetes air mata. Haru, karena disambangi teman sejawat dari Padang.

Tidak banyak terucap dari bibirnya, selain “Terima kasih Tuhan. Engkau kirimkan saudara-saudaraku dari Sumbar melihat keadaaanku yang semakin lara ini,” sambil menyeka air matanya. Suasana haru pun pecah dalam ruangan itu.

Masih dalam kondisi tubuh yang payah, Sampuraga tergesa-gesa mempelihatkan VCD kepada Agus Thaher. VCD itu berisikan dua judul lagu baru yang diciptakannya di penjara. Cuplikan video itu, Sampuraga tampil di panggung LP menyanyikan lagu tersebut. Terlihat dalam video itu, Sampuraga bernyanyi sambil menitikkan air mata.

Peci putih yang menutupi kepalanya membuatnya tidak bisa berpikir banyak tentang biaya hidup anaknya. Sebab saat ini, ia satu-satunya tulang punggung keluarga. Ketika itu juga tampak istrinya Suharni (30). Ibu lima orang anak ini pun tidak mau larut dengan kesedihan suaminya.

Demi kesehatan suami tercinta, Suharni berani menitipkan anaknya pada tetangga di Padang. “Kama denai ka batenggang,” ungkap Suharni menirukan judul lagu suaminya yang diciptakan era 1980-an. Namun dalam suasana yang penuh air mata itu, Agus Thaher, sobat karib Sampuraga, terus memberikan semangat untuk bertahan dalam dukanya. “Tenang, Bang. Hukum itu berpihak kepada yang benar. Untuk itu kami dari seluruh kalangan seniman musik Minang akan berjuang menyelamatkan Abang,” Agus Thaher menyemangati.

Kemudian di penghujung besukan Agus Taher itu, Amir Sampuraga merintih, “Tuhan, jangan cabut nyawaku dalam penjara.” Ucapan itu disertai deraian air mata di keriput wajahnya. Ucapan itu juga membuat seisi LP yang sejak kedatangan rombongan ikut berkerumun, meneteskan bulir-bulir air mata. (ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: