h1

Palang Gerbang SMA 16 Dilepas

Agustus 11, 2008
Rabu, 23 Juli 2008
Padang, Padek— Setelah tiga hari ditutupi warga, akhirnya palang yang menutupi akses masuk ke SMA Negeri 16 Padang, di Jalab Simpang Akhirat Kecamatan Kuranji dibuka warga, Minggu (20/7). Sebelunya aksi penutupan jalan masuk ke sekolah dengan membuat pagar kayu yang dilakukan warga itu, (Jumat, 18 Juli-20 Juli), adalah buntut dari ketidakpuasan warga terhadap sekolah. Lantaran tidak diterimanya putra pribumi belajar di sekolah tersebut.

Setelah melewati negoisasi panjang antar pihak sekolah dengan pemuka masyarakat Bukik Napa Kecamatan Kuranji, proses belajar mengajar (PBM) kembali berlanjut seperti biasa. Pantuan Padang Ekspres di sekolah yang masih menopang aliran listrik dengan Mushalla Baitul Amin itu, tidak ada lagi tanda-tanda aksi pemblokiran akses masuk ke sekolah yang dilakukan warga. Bahkan pagar yang sempat dipasang Jumat lalu, sudah tidak terlihat lagi.

Di depan sekolah terlihat sejumlah orang sedang membuat parit dan jembatan. Sedangkan siswa terlihat berkonsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan gurunya. Suasana hening di sekolah ini menyelimuti keseriusan calon generasi penerus bangsa ini.

Saat ditemui Padang Ekspres di ruang kerjanya, Kepala SMA 16 Padang Amirman M mengatakan, pagar yang dipalang dengan kayu dan bambu sudah dibuka warga, Minggu (20/7) lalu. “Sebelumnya kita telah menerima aspirasi warga dengan menerima anaknya yang tidak diterima di sini untuk sekolah. Tapi keputusannya tetap berada di tangan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Padang. Sedangkan pembongkaran palang pemblokir disaksikan Ketua LPM dan Lurah Kuranji,” kata Amirman.

Amirman menambahkan, alasan sekolah tidak bisa menerima mereka, karena tidak memiliki nilai yang sesuai dengan persyaratan penerimaan pada pendaftaran siswa baru (PSB) secara online. Namun begitu Kasek ini dapat memakluminya. “Soalnya permintaan warga agar anaknta bersekolah di SMA 16 cukup beralasan. Sebab, sebelum sekolah ini dibangun, warga pribumi dijanjikan untuk belajar di sini. Kalau mereka menyekolahkan anaknya di tempat lain akan mengeluarkan biaya yang tinggi. Jika di sini banyak penghematan yang dilakukan,” terangnya.

Sementara itu, Khaidir (57), pemuka masyarakat setempat kepada Padang Ekspres mengatakan, pihaknya pun sudah mendapat jawab dari pihak sekolah, bahwa kebijakan bisa diterimanya anak mereka bersekolah di SMAN 16 Padang, merupakan kebijakan Kepala Disdik.

Untuk itu, minggu depan kami bersama warga Bukik Napa di Simpang Akhirat akan menemui langsung Kepala Disdik Padang tersebut serambi meminta jawabannya atas aspirasi kami ini. Jika tidak dapat dikabulkan, maka warga akan bertindak lebih keras lagi,” ancamnya.

Sebenarnya, sambung Khaidir, banyak harapan yang disampaikan warga sebelum sekolah ini dibangun. Bayangkan, ribuan meter persegi tanah warga dihibahkan begitu saja. Belum lagi batang rambutan milik warga dimusnahkan tanpa ganti rugi. Hal itu diterima warga Bukik Napa. Asalkan anak cucunya dapat belajar di sana. Orangtua di sini tidak mau anaknya bernasib sama dengannya. Cukup orangtua yang tidak mengecap pendidikan layak,” sebutnya dengan mata berkaca-kaca. (ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: