h1

Timbulun, Kampung Miskin di Kota Padang

Agustus 11, 2008
Selasa, 17 Juni 2008
Ketiadaan Jembatan Telah Memiskinkan Kami
Timbulun bagaikan itik mati kehausan di atas air, ayam mati kelaparan di atas padi. Sebab kampung di Kelurahan Batu Gadang Kecamatan Lubukkilangan dan dikelilingi Bukit Karang Putih itu, tak henti warganya semakin miskin karena ketiadaan jembatan.

TIDAK banyak orang mengetahui kampung kecil ini. Kampung ini berpenghuni 41 KK dan terletak 30 Km dari pusat Kota Padang. Menuju lokasi tersebut, anda akan menemui jalan sepanjang 5 km yang masih berbatu jika anda dari Jalan raya Padang-Solok. Hal ini membuat kendaraan yang melintas cukup kesulitan, karena jalan berbatu tidak sedikit membuat sepeda motor terpeleset.

Sejak empat tahun silam, warga terpaksa menggantungkan hidup pada lahan pertanian dan perkebunan coklat, karet dan nilam. Petani setiap harinya harus “gali lubang tutup lubang”. Sebab biaya operasional panennya melebihi dari tahun-tahun sebelumnya.

Sejak banjir bandang melanda sungai Padang Ideh membelah Kampung Sako dengan Timbulun, Februari 2004, warga terpaksa mengangkut hasil pertaniannya dengan tenaga manusia. Sebelumnya, setiap musim panen petani membawa hasil sawahnya ke pusat kota, dengan menggunakan jasa angkutan mobil sekali angkut.

Akan tetapi setelah jembatan sepanjang 24 meter tersebut roboh dan berganti dengan batang kelapa, biaya pengangkutannya lebih tinggi. Jika tidak, petani harus mengorbankan tenaga manusia untuk menjualnya ke kota. Biasanya, dengan angkutan mobil, petani hanya mengeluarkan dana operasional sebanyak Rp80 ribuan. Jumlah padi yang dibawa itu rata-rata 10 karung, setiap panennya.

Sedangkan sejak rusaknya jembatan, setiap karungnya petani harus mengeluarkan dana Rp30 ribu per karung. Biaya itu pun baru sampai di balik jembatan penyemberangan. Dengan angkutan ojek atau cigak baruk. Ongkosnya Rp4 ribu. Maka biaya pengeluaran membengkak hingga mencapai Rp350 ribu setiap panen.

Gafur Tojok (59),  mengaku kerusakan jembatan membuat penghasilannya menurun sekitar 30 persen.  “Keadaan seperti ini kami alami selama empat tahun. Untuk mensiasati kekurangan ini, kami para petani terpaksa menanggungkan saja. Namun bagi saudara yang memiliki kemampuan tenaga lebih, mereka mencari pekerjaan lain,” terang Gafur.

Ketua RT 04 RW IV Armawan mengatakan sejak banjir bandang melanda sungai Padang Ideh, lahan sawah warga kerap direndami banjir saat musim hujan. “Pernah dulu sewaktu sawah sedang bersemi, hujan mengguyur dan banjir merendami sawah petani. Akibatnya warga ini tidak jadi menyambut masa panen,” terangnya.

Selain itu sungai Padang Ideh pun membuat anak-anak di Timbulun terganggu ke sekolah. Di kampung ini tidak sedikit anak-anaknya belajar di pusat kota, seperti di SMP 8 Padang, SMK 3 dan beberapa SMA Negeri lainnya. Untuk seorang anak, seorang kepala keluarga harus mengeluarkan uang sebesar Rp10 ribu. “Sangat memiriskan, Pak. Petani di sini selain penghasilannya tidak mencukupi makan sehari-hari, juga harus mengeluarkan dana lebih untuk anaknya yang sekolah,” tutur Armawan.

“Demi anaknya sekolah, warga Timbulun rela mengerjakan sawah orang lain untuk pengasilan tambahan. Namun, kini sawah yang dikerjakan pun semakin sedikit. Hal itu disebabkan, sawah sering digenangi banjir,” ungkap Armawan diamini  Nawirman.

Lurah Batu Gadang Nazarudin yang dihubungi, mengakui warga Timbulun kerap kurang mendapat perhatian untuk mengakses hasil pertaniannya. “Jembatan di atas sungai Padang Ideh tidak lagi menahan laju kendaraan yang berlintasan. Kini sejak jembatan diganti dengan batang kelapa, setiap tahunnya harus diganti dua kali, Semua dilakukan dengan swadaya masyarakat,” aku Nazarudin. (ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: