h1

Mengelilingi Padang Kota Lama Jelang Hut Kota Padang ke-339

Agustus 15, 2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Khatib di Masjid Nurul Huda, Sertifikat dari Masjid Raya Gantiang
Warga Kota Padang cukup bangga dengan keberadaan Masjid Raya Ganting yang berdiri sejak tahun 1700M, sebagai masjid tertua. Sekitar limapuluh tahun kemudian, dibangun Masjid Nurul Huda di tepian Batang Arau. Bagaimana sejarah masjid  satu ini?

Masjid Nurul Huda berada di tepi iliran Batang Arau. Hingga sekarang selalu ramai dikunjungi warga sekitar untuk shalat dan pengajian. Akan tetapi, namanya belum masuk dalam daftar cagar wisata agama. Padahal, dulunya masji ini sangat berperan dalam pengembangan agama Islam di bumi Bingkuang ini.

Bangunannya terlihat tidak asli lagi. Sejak tahun 1960-an, bangunan asli Masjid Nurul Huda yang berbahan kayu diganti dengan bangunan berbahan semen permanen. Hingga saat ini, masih banyak anak-anak di tempat itu belajar mengaji dalam bentuk Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Taman Pendidikan Seni Alquran (TPSA).

Dulunya, semua ilmu ketauhidan disampaikan imam secara turun temurun. Terakhir imam yang masih memberikan pengajian, Imam Abdul Wahab. Ia wafat tahun 1940-an. Imam kelahiran tahun 1880-an itu memberikan pengajian.

Cara pengajarannya, lebih banyak menggunakan seni irama. Sehingga anak-anak zaman itu tidak merasa keberatan belajar mengaji. Usman Rajo Lelo (80), salah seorang anak didik Imam Abdul Wahab yang masih hidup saat ini.

Saat ditemui Padang Ekspres di rumahnya, kawasan Batang Arau Padang, mantan anak buah kapal tiga zaman itu mengaku terkesima dengan metode belajar mengaji pada zaman dulu. Dia menceritakan, pada masa itu mereka belajar mengaji setiap selesai shalat magrib hingga selesai waktu shalat Isya.

“Cara imam mengajar kami sangat khas. Setiap ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan irama yang menawan. Anak-anak yang belajar saat itu menyenangi pelajaran seperti itu. Setelah mengaji, para anak laki-laki belajar silat hingga tengah malam,” terang Usman.

Bila waktu Subuh masuk, seluruh santri yang tidur setelah belajar silat di masjid, bangun dan berdondong-bondong menuju tempat berwuduk di aliran Batang Arau untuk segera menunaikan shalat. “Tempat berwuduk kami itu, paling panjang dari masjid dan surau lainnya. Waktu itu aliran sungai Batang Arau masih jernih dan tidak dicemari air limbah seperti saat ini,” kenang pria yang fasih berbahasa Jepang ini.

Pria bersuku Melayu ini menyayangkan keadaaan air yang mengalir di Batang Arau. Kini airnya tidak sejernih dulu. “Jangankan untuk berwuduk, untuk mencuci kaki saja, kehigienisannya masih diragukan. Apalagi digunakan untuk bersuci,” tukasnya.

Di masjid ini tidak hanya kaum pribumi yang menunaikan ibadahnya. Akan tetapi, juga nakhoda dan anak buah kapal dari luar negeri yang singgah di Pelabuhan Muara. “Umumnya orang dari Timur Tengah yang baru datang ke Padang. Mereka langsung menunaikan shalat di Masjid Nurul Huda,” kata Usman.

Ia menuturkan, waktu itu Imam Abdul Wahab juga membina anak laki- laki untuk menjadi khatib khutbah di masjid. Setiap calon khatib dapat memberikan khutbah di mimbar masjid apabila telah mendapatkan sertifikat pengesahan dari Imam Masjid Raya Ganting.

“Masjid Raya Ganting, pusat pendidikan agama waktu itu. Khatib-khatib waktu itu mesti lulus ujian yang dilakukan di Masjid Raya Ganting. Salah satu syarat menjadi khatib waktu itu, calon khatib mesti bisa menyampaikan khutbahnya dalam bahasa Arab,” jelas Usman.

Diakui Usman, pemerintah kolonial Belanda waktu itu tidak pernah menghalangi orang Padang atau kaum pribumi melakukan aktivitas keagamaan. “Meski di Batang Arau hidup masyarakat dari berbagai etnis, suku bangsa dan agama, tetapi untuk hak beragama tidak ada gesekan antara satu sama lainnya,” tutup Rajo Lelo, yang pernah menjadi tukang masak tentara Jepang ini.  (Ilham Safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: