h1

Nelayan Minta Perlidungan Kapolda

Agustus 15, 2008
Selasa, 05 Agustus 2008

Padang, Padek— Tersangka Alimin, nelayan dan pengrajin kapal bagan yang ditangkap Direktorat Polisi Air (Dir Pol Airud) Polda Sumbar 18 Juli lalu sekitar pukul 22.00 WIB di Perum Pegambiran Padang, meminta perlindungan hukum kepada Kapolda Sumbar.

Kakak kandung Alimin, Azli Bagindo Alam dalam laporannya ke Polda tertanggal 30 Juli 2008 dan diteruskan ke Padang Ekspres menyebutkan, Alimin ditangkap Dir Pol Airud menyusul ditemukannya kayu yang diduga diperoleh Alimin dari aksi illegal logging, Kamis (19/6). Perlindungan diperlukannya, karena saat ditangkap hingga di tahanan, Azli Bagindo Alam mengatakan adiknya diperlakukan dengan cara-cara tidak wajar oleh oknum anggota Pol Airud.

”Saat ditangkap, Alimin tidak diperkenankan untuk bertemu istrinya. Kemudian oknum anggota Pol Airud yang datang menangkap juga mengancam dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Saat diperiksa, Alimin juga disiram dengan kopi panas oleh oknum anggota Pol Airud,” kata Azli Bagindo Alam.

Warga Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan itu, saat datang menyerahkan laporannya ke redaksi Padang Ekspres kemarin malam mengharapkan Kapolda memberikan perlindungan, dan menangguhkan penahanan terhadap Alimin. ”Saya juga minta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang ikut memberikan perlindungan agar tidak terjadi pelanggaran HAM,” katanya.

Diceritakan Azli Bagindo Alam, kayu yang ditangkap Pol Airud yang saat itu dikatakan tengah terapung di laut. Menurut Azli itu tidak benar. “Kayu itu disita saat dijemur di tempat pembuatan kerangka kapal atau bagan. Kemudian kayu diangkut ke truk. Jadi, bukan di laut. Apakah boleh Pol Airud menyita kayu di darat. Dan, apakah Alimin yang bekerja membuat bagan juga bisa dikatakan sebagai pelaku illegal logging,” tegasnya.

Lagipula, kata Azli, sejak dahulu kala sudah ada kesepakatan ninik mamak di Nagari Sungai Pinang yang tidak melarang mengambil kayu, kecuali di hulu sungai. Aktivitas nelayan membuat kapal atau bagan juga sudah diketahui Pol Airud selama ini, tetapi tidak ditangkap. ”Kenapa sekarang kayu yang hanya dimanfaatkan untuk membuat bagan dan tidak dijual ke luar nagari itu dilarang dan ditangkap,” tegasnya.

Dampak dari penangkapan kayu tersebut, kata Azli, membuat masyarakat di daerah terisolir itu trauma. Bahkan ada yang tidak berani untuk membuat bagan lagi, sebagian lagi terpaksa tidak melaut dan kehilangan mata pencaharian.

Kapolda Sumbar melalui Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Djoko Erwanto belum bisa memberikan komentar banyak. Ia akan mencek dugaan intimidasi yang dialami Alimin ke Dir Pol Airud Polda Sumbar. ”Saya akan cek dulu ke Dir Pol Airud,” ujar Djoko Erwanto. (mg7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: