h1

Nyawa Sang Istri Habis di Tangan Suami

Agustus 15, 2008
Minggu, 03 Agustus 2008
Sample Image Impian Eli Taman Sari (19), untuk membangun bahtera rumah tangga bersama suami tercinta, Besman (24), berakhir dengan tragis. Tak disangka, dengan penuh kekesalan, Besman tega membakar Eli hidup-hidup bersama janin berusia dua bulan yang sedang dikandungnya.

Salah satu kamar di rumah bercat merah muda, yang terletak di Jalan Joni Anwar, Gang Mandala No 19 RT03/RW02 Kelurahan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo ini menjadi saksi bisu, bagaimana Eli meregang nyawa, akibat perang mulut yang terjadi antara Eli dan Besman.

Ketika Padang Ekspres mengunjungi rumah Almarhum Eli, dengan berurai air mata, Suwarni (54), Ibu Eli, mencoba mengisahkan kembali detik-detik musibah, yang akhirnya merenggut nyawa anak keenamnya tersebut. Sebab, di malam kejadian, Suwarni merupakan orang pertama yang melihat langsung kondisi Eli di tengah kobaran api.

Selasa (22/7), sekitar pukul 23.30 WIB, Suwarni mendengar kegaduhan dan bau asap yang menyengat, dari kamar tidur Eli, yang terletak bersebelahan dengan kamarnya. Suwarni dengan tergopoh-gopoh, berusaha membuka pintu kamar Eli dengan petolongan ayah Eli, Nasrul (56). “Saat pintu kamar terbuka, Besman tampak panik, sembari mengatakan bahwa Eli terbakar akibat api dari obat nyamuk yang lebih dahulu membakar tumpukan kain di kamar mereka,” terangnya.

Suwarni pun panik dan berusaha minta pertolongan warga. Dengan bantuan beberapa orang warga, Eli kemudian “dilarikan” ke RSUP M Djamil Padang. “Tak ada sedikit pun kecurigaan saya terhadap Besman, karena selain Eli yang terbakar, saya juga melihat tangan Besman terbakar,” tutur Suwarni, yang tak henti memeluk foto Eli yang sedari tadi digenggamnya.

Eli sempat dirawat secara intensif selama enam hari di RSUP DR M Djamil. Selama dirawat, Suwarni dan anggota keluarga silih berganti menemani Eli. Erangan demi erangan yang keluar dari mulut Eli, membuat hati Suwarni remuk redam. Apalagi, melihat kondisi anak kesayangannya itu, sudah melepuh bahkan sulit dikenali. ditambah pula bagaimana kegelisahan Besman yang memperlihatkan wajah khawatir. ”Ketika gempa beberapa hari sebelum kepergian Eli, Besman pun memperlihatkan rawut muka ketakutan atas keselamatan  istrinya,” ingat Suwarni sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya.Sample Image

“Sekujur tubuhnya melepuh, bahkan di bagian tangan sudah banyak yang mengelupas dan berdarah. Wajah Elipun sudah sembab, merah dan melepuh, sehingga membuatnya susah bicara, apalagi bergerak. Ingin sekali saya gantikan posisinya kala itu, apalagi, dalam perutnya sedang tumbuh jabang bayi, yang akan menjadi cucu saya,” ulang Suwarni.

Namun, setelah enam hari berjuang, Eli akhirnya menyerah dan dipanggil yang Kuasa. Suwarni yang melepas kepergian Eli bersama Nasrul dan kakak serta adik Eli, seolah tak percaya musibah tersebut menimpa keluarga mereka. Apalagi, ketika mengetahui penyebab kematian Eli adalah kekesalan Besman, hanya karena Eli ngidam minta dibelikan makanan dan ponsel.

Saksi: Kediaman Eli menjadi saksi tindakan sadis Besman yang menyebabkan Eli meninggal dunia

Ditambah lagi, jasad Eli, tak bisa dimandikan, karena kulitnya sudah sangat lunak, dan rentan hancur. “Saya tidak akan pernah terima perlakuan Besman terhadap Eli. Semoga dia diberi hukuman setimpal,” kata Suwarni dengan nada emosi. Eli akhirnya dikuburkan di pekuburan keluarga bukit Gunung Pangilun.

Kawin Lari yang Akhirnya Direstui

Kepergian Eli, benar-benar merupakan penyesalan terbesar bagi keluarganya. Harus diakui, pernikahan Eli dengan Besman mulanya memang tidak mendapat restu keluarga. Tapi setelah Besman membawanya Eli kawin lari, terpaksa pihak keluarga memberikan restu. “Bagaiamana pun nikah lari itu hina. Dan kami tidak mau Eli menjalani bahtera rumah tangga tanpa restu orangtua, makanya diberi restu, dengan harapan keluarga mereka kelak bahagia,” lanjut Suwarni, yang kini didampingi salah satu kakak Eli, Isal (23).

“Dua kali dosa yang dilakukan  Besman pada keluaga ini. Pertama, karena telah membawa Eli kawin lari, padahal saat itu Eli masih duduk di bangku SMP, dan masih banyak impian yang bisa dicapainya,” ucap Isal yang tak habis pikir, rayuan macam apa yang dilontarkan Besman kedapa Eli, hingga saudara perempuan terakhirnya itu luluh.

Kedua, kata Isal, adalah karena Besman telah tega merenggut Eli dari sisi keluarga untuk selama-lamanya. “Apa dendam Besman pada keluarga ini, atau apa sebetulnya yang diinginkan Besman pada Eli. Tapi yang jelas, Besman harus mendapat hukuman setimpal akibat perbuatannya,” tegas Isal.

Saya Menyesal

Apapun alasannya, tindakan membunuh merupakan tindakan keji yang akan dijerat dengan hukuman. Namun, Besman tetap bersikukuh bahwa perbuatannya tersebut merupakan imbas dari kata-kata kotor yang dilontarkan Eli padanya, beberapa menit sebelum Besman memutuskan membakar Eli.

“Malam itu, saya memang cekcok dengan Eli, karena dia minta dibelikan ayam KFC, tapi saya tidak ada uang,” ungkap Besman, ketika Padang Ekspres menemuinya di sel tahanan Polsek Nanggalo. Besman mengaku, dirinya dihujani kata-kata kotor oleh Eli, hingga membuat emosinya memuncak. Tanpa mengungkapkan dimana dia menemukan bensin, minyak tanah, dan air keras, Besman kemudian menyiramkan cairan yang telah dipadukan dalam botol kecil tersebut ke tubuh Eli. Untuk kemudian disulutnya dengan korek api. “Saya benar-benar kalap, tapi saya menyesal,” tandas Besman. Yang seolah tak berfikir tentang janin yang sedang dikandung Eli.
Eli Itu Ibu Kedua Kami

Kepergian Eli, yang oleh para keponakannya akrab dipanggil Etek ini, juga menyisakan banyak kenangan indah. Bahkan Nurul (10), salah seorang keponakan Eli menuturkan, Eli merupakan sosok penyayang dan selalu memperhatikan kebutuhannya. Bahkan Eli tak pernah tega jika keponakannya menangis. “Etek  itu ibu kedua saya,” kata Nurul di sela-sela tangisnya. Nurul mengisahkan, setiap sentuhannya telah mengisyaratkan bagaimana memperlakukan seorang anak. di rumah, tak pernah sepi, bila ada Eli, apalagi Eli orangnya periang dan suka bercanda. “Saya kangen etek,” tutur gadis kecil itu.( ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: