h1

Krisis Global, BNI Siapkan Enam Langkah

Desember 7, 2008

Sabtu, 22 November 2008
Padang, Padek—Krisis keuangan global melanda negara Amerika Serikat hingga saat ini memang berdampak pada arus perekonomian beberapa negara internasional, termasuk Indonesia. Hanya saja, kondisi seperti itu di Indonesia belum terasa seperti halnya Amerika Serikat. Saat ini Indonesia masih menghadapi masa pra-krisis.

Sebagaimana dikatakan Senior Chief Economics Divisi Perencanaan Strategis Bank Nasional Indonesia (BNI) 46 Pusat, Ryan Kiryanto, pada acara pertemuan nasabah BNI 46 di Pangeran Beach Hotel, Kamis malam (20/10) mengatakan, BNI 46 dan Negara Indonesia menyiapkan diri seiring akan masuknya masa krisis keuangan global di tahun 2009 di negara ini.

”Saat ini Indonesia masih berada dalam pra-krisis. Belum ada permasalahan ekonomi secara mencolok. Untuk itu, BNI 46 telah menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi masa krisis ekonomi saat ini,” sebut Ryan dalam pemaparan makalahnya berjudul ”Krisis Keuangan Global dan prospek ekonomi Perbankan tahun 2009: Sebuah Tinjaunan Analsisis”.

Kesiapan BNI menghadapi krisis keuangan global, lanjut Ryan, dengan cara menerapkan lima langkah strategis. Pertama, BNI akan selalu menjaga likuiditas agar tetap stabil. Likuiditas sangat menentukan nasib dan imej suatu bank di mata masyarakat (konsumen). Langkah kedua dilakukan BNI dengan cara menahan terjadinya angka kredit bermasalah atau NPL (non performing loan).

”Setiap bank kemungkinan memiliki kredit-kredit bermasalah dengan debitur-debitur nakal. Jika kredit masalah tersebut terdapat di lingkungan BNI, maka angkanya tidak terlalu besar. Maksimal di bawah angka 5 persen,” sebut karyawan BNI yang sering menuliskan artikel di sejumlah media terbitan Jakarta.

Lebih jauh, Ryan mengatakan strategi ketiga, meningkatkan pelayanan kebutuhan dana murah, seperti tabungan dan giro. ”Kalau deposito masuk dalam ketegori pelayanan simpanan keuangan kelas mahal. Jika prosedur pembukaan rekening baru di dalam hal tabungan, maka masyarakat akan banyak menggunakan tabungan di bank,” Ryan mencontohkan.

Sedangkan langkah keempat dilakukan BNI 46 dengan melakukan efiseinsi biaya operasional. Hal seperti itu diterapkan maka beban biaya dikeluarkan bank dan perusahaan lainnya akan berkurang. Kemudian, langkah kelima untuk mengantisipasi cepat keluar dari krisis keuangan yang akan melanda Indonesia dengan cara memberlakukan pembiayaan dalam bentuk Valuta Asing (Valas).

”Dampak dari memberlakukan pembiayaan dengan Valas, rupiah akan melemah terhadap mata uang asing, khususnya dolar hingga akhir tahun 2008 pada angka Rp12 ribu. Upaya yang baik dalam menciptakan situasi perekonomian bangsa dengan membudayakan transaksi dengan rupiah. Tak kalah menariknya, warga negara Indonesia mampu mengajak orang asing untuk membeli rupiah.

Caranya dengan mengharuskan warga asing yang melakukan transaksi di dalam negeri,” terang Riyan di depan sejumlah pejabat teras dari Pemerinta Kota Padang dan Provinsi.

Pengusaha yang dapat melakukan pembiayaan dengan dolar hanya diberlakukan pada pengusaha importir. ”Kalau pribadi yang mengajukan pembiayaan keluar negeri maka bersangkutan harus punya NPWP. Kemudian bagi pengusaha melakukan usahanya ekspor, maka setiap hasilnya dikembalikan ke perbankan nasional, BNI 46,” urainya. (ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: