h1

Nasib Pejuang di Alam Merdeka, Dari Tukang Bangunan Hingga Tambal Ban

Desember 7, 2008
Minggu, 09 November 2008
Sample Image Cita-cita pejuang hanya satu. Merebut kemerdekaan. Demi Indonesia merdeka, mereka rela korban nyawa. Tak ada pamrih di balik semua itu. Kini cita-cita para pejuang telah tercapai. Rakyat Indonesia telah menikmati kemerdekaan. Lantas bagaimana nasib para pejuang yang kini telah berusia senja? Sejahterakah hidup mereka?

Sabtu siang langit Kota Padang berhias awan cerah, tapi sepertinya mendung juga menggantung. Tidak juga pertanda hujan. Memang, belakangan cuaca kian tak menentu. Seperti nasib para pejuang kemerdekaan yang dipermainkan kejamnya zaman.

Adalah Zainudin Manik, seorang pejuang yang ikut bertempur melawan penjajah di tiga zaman perang di Kota Padang. Mulai dari melawan penjajahan Jepang, mempertahankan RI dalam agresi militer Belanda dan gerilya di masa perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Di usianya yang memasuki 83 tahun, pria itu masih tampak tegar dan sehat. Meski kulit yang membalut tubuhnya telah keriput, tapi semangat juangnya msih terpancar dari wajahnya di masa kemerdekaan ini.

Bukannya perjuangan melawan penjajahan lagi, tapi perjuangannya untuk bertahan dari tuntutan hidup yang semakin keras saja. Perjalanan Padang Ekspres untuk bertemu dengan Zainudin cukup sulit. Padahal ia tinggal masih dalam kota. Tepatnya di Jalan Adinegoro No 1, Kelurahan Bungo Pasang, Kecamatan Kototangah. Sebelumnya, Padang Ekspres mendapat informasi bahwa pria itu berpforesi sebagai penambal ban.

Ketika dicari, bengkel tambal ban tersebut tidak ada lagi. Kini rumah pejuang yang pernah menjadi anak buah Jamaluddin Wak Ketok itu yang punya basis perjuangan “Harimau Kuranji” itu, bergeser ke belakang bangunan bengkel tambal ban yang pernah menjadi mata pencaharian yang ditinggalkannya sejak tahun 2005. Pilihannya meninggalkan pekerjaan tersebut bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan permintaan sang anak. Kini, tempat ia melakoni pekerjaan tersebut telah berubah menjadi ruko di sekitar stasiun KA Tabing.

Saat ditemui di rumahnya di pinggir kawasan perumahan Villa Melati Mas, Zainudin baru saja menghadiri prosesi pernikahan anak kakaknya. Pria yang berpangkat mayor di akhir masa pengabdiannya sebagai pejuang kini masih tampak tegar dan tegas meski indera pendengarannya mulai berkurang.

Ketika memulai pembicaraan, Zainudin begitu bersemangat menceritakan kisah perjuangannya di beberapa kawasan Sumbar. Di antaranya Payakumbuh-Limapuluh Kota, Bukittinggi, Padangpanjang, Pariaman, Padang, dan sekitar Solok. Dari sekian banyak perjuangannya itu, ayah 11 anak itu, tak bisa melupakan peristiwa ketika tertembak tentara Belanda, saat mempertahankan ibu pertiwi di kawasan Simpangharu, Padang.

Kala itu ia berusaha menerobos tempat pertahanan Belanda yang dilindungi ranjau berpagar kawat beraliran listrik. Ia mencoba mengingat, peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1942. Laki-laki yang telah empat kali beristri ini mengetahui perangkap listrik tersebut. Kontan saja, ia berusaha memutuskan aliran listrik dengan sebilah kayu dan masuk ke dalam rumah opsir Belanda.Sample Image

Dalam gerilya itu Zainudin memimpin 170 pasukannya. Ia ditembak salah seorang tentara Belanda yang mengenai kaki kirinya.

Zainudin Manik (tengah) saat masih bekerja sebagai tukang bangunan pembuatan landasan pacu Bandara Tabing, Padang.

Layaknya singa terluka, ia membalas tembakan itu dengan tembakan membabi buta sampai tentara Belanda harus angkat kaki dari kawasan Simpangharu. Luka tersebut ditanggungkan Zainudin selama satu bulan dan harus menjalani perawatan di Sawahlunto.

Perjuangan angkat senjata dijalani Zainudin berlanjut di masa penjajahan Jepang. Ketika Jepang dibom oleh Sekutu, Zainudin mendapat senjata  160 pucuk dari pimpinan tentara Jepang di Padang. Senjata itu digunakannya hingga perjuangan pada agresi Belanda I hingga agresi Belanda II akhir tahun 1950.

Sejak itu, dirasa kondisi tanah air sudah aman dan penjajah telah angkat kaki, Zainudin keluar masuk hutan untuk bergerilya. Berakhir sudah perjuangannya dan saatnya ia gantung senjata. Di akhir pengabdiannya sebagai tentara, pria kelahiran Padang ini beralih profesi sebagai petani dan sempat pula bekerja sebagai buruh bangunan sebelum menjadi tukang tambal ban di rumah.

“Cukuplah pangkat hingga Mayor. Prestasi itu sudah membanggakan sebagai Tentara Rakyat Indonesia (TRI),” kenang Zainudin diamini istrinya, Zubinar (63).

Memasuki masa damai, sekitar 1960-an, Zainudin mulai mencari profesi lain. Pekerjaan sebagai petani adalah pilihan pertama yang dijalani di sekitar tempat tinggal. Akan tetapi, profesi itu tidak membanggakannya sebagai laki-laki. Lalu, ia mencari celah lain, yakni sebagai pemborong usaha bangunan. Sentuhan tangan dinginnya yang paling besar untuk negeri ini ketika proses pembangunan bendungan bukit Gunuang Nago, jaringan aliran listrik PLN di kantor P3B Ulakkarang, dan landasan pacu lapangan terbang Tabing pada tahun 1970-an.

Usai masa itu, setelah sulitnya mencari penghidupan, baru terketuk hatinya untuk ikut bersama rekan seperjuangan menerima pensiunan. Namun, haknya sebagai pejuang itu hingga kini, tak kunjung dirasakannya. Pasalnya untuk mendapatkan uang pensiun setiap bulan, penerimaannya harus memiliki tanda bukti sebagai pejuang yang dikeluarkan badan Veteran dan Menteri Pertahanan. Sayang, Zainudin Manik tidak memiliki bukti-bukti otentik itu.

Surat berharga itu hilang, ketika rumah Zainudin dilanda banjir bandang setinggi dua meter lebih. Alhasil, uang pensiunan yang seharusnya diterima hingga sekarang tak kunjung ia dapatkan. “Saya terus berusaha mengurus syarat-syarat itu sampai lengkap, tapi hingga sekarang uang itu tidak kunjung juga didapatkan. Saya merasa putus asa dan menyesalkan kebijakan pemerintah. Bayangkan, Veteran yang berjuang sekian lama, untuk mendapatkan uang tersebut harus serumit itu,” keluh Manik dengan mata berkaca-kaca penuh harap.

Seketika itu, gelagat Manik yang semula tegas dan tegar tiba-tiba berubah menjadi haru, hiba bercampur pasrah mengenang nasibnya di akhir masa perjuangan yang tak kunjung usai. Apa salah, seorang yang pernah berjasa untuk negeri ini berharap sedikit perhatian dari pemerintah. “Apa salah saya hingga harus menanggungkan nasib seperti ini. Bahkan untuk membesarkan anak saya harus banting tulang,” ungkapnya sambil menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.

Selama masa senja, tahun 1990-an hingga tahun 2005 Zainudin tidak pernah mau tinggal diam. Semangatnya untuk berusaha terus dijalani. Meski berprofesi sebagai tukang tambal ban, hal itu dianggapnya hanya sebagai perintang-rintang hati. Anak-anaknya sudah melarang Zainudin untuk meninggalkan profesi itu dan tinggal di rumah untuk menghabiskan masa tua sambil menambah amalan. “Amal ibadah tidak semata di masjid atau surau. Berusaha di rumah pun juga beribadah,” ungkapnya kembali tegar.

Menutup pembicaraannya, Zainudin menyampaikan harapannya. “Sampai kapan saya harus menunggu mendapatkan dana pensiun layaknya sebagai pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa Indonesia,” pungkas mantan pejuang pemilik NPV 03.333.247 ini. (Ilham Safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: