h1

Ruang Tamu jadi Kamar Penginapan

Desember 7, 2008

Melirik Pemukiman di Sekitar Embarkasi

Selasa, 11 November 2008
Mulanya hanya sekadar memberikan tumpangan bagi keluarga jamaah calon haji (JCH) yang kemalaman di Padang, warga sekitar Embarkasi Padang rela memberikan ruang tamunya sebagai tumpangan untuk beristirahat. Ternyata hal itu menjadi salah satu prospek mencari tambahan pendapatan ekonomi keluarga.

Bila berkeliling di sekitar kompleks perumahan Parupuk Tabing, Padang, akan ditemui beberapa sudut rumah, halamannya diramaikan orang yang tengah asyik bercengkerama membicarakan masalah haji. Ternyata orang itu tamu dadakan pemilik rumah yang menumpang satu malam menjelang keberangkatan jamaah haji.

Ake (24), seorang pemilik rumah di Jalan Minangkabau, sebelah utara Kompleks Embarkasi Padang mengatakan baru saja melepas 45 orang tamunya pulang ke kampung halaman. Tamunya itu baru saja mengantar keluarganya berangkat ke Jeddah, Arab Saudi menunaikan ibadah haji.

“Mereka menginap di rumah saya karena kemalaman.

Mereka tidak memiliki cukup uang untuk menyewa wisma atau hotel yang digunakan untuk tempat istirahat selama satu malam. Akhirnya kami memberikan ruang tamu kepada warga dari Jambi itu untuk dijadikan sebagai tempat tidurnya,” tutur Ake.

Setiap orang yang tidur di rumahnya, sebut Ake, dipungut biaya penginapan secara sukarela Rp10 ribu–Rp15 ribu per kepala untuk satu malam. Sebelum asrama haji jadi embarkasi, mereka telah memberikan tumpangan pada keluarga jamaah haji asal Sijunjung, Dharmasraya, atau Pangkalan Limapuluh Kota.

“Awalnya hanya sekadar minta tumpang untuk mandi dan ke toilet. Karena jumlahnya banyak keluarga JCH itu meninggalkan uang rasa terima kasih kepada kami. Jumlahnya tidak banyak. Sekadar untuk mengganti pemakaian air yang digunakan untuk mandi. Akhirnya hal demikian menjadi keterusan di rumahnya. Kini rumah saya bisa menampung 30 sampai 40-an orang di ruang tamu,” sebutnya.

Warga lainnya, Alizar (48) juga memanfaatkan momen sekali setahun itu untuk menambah pendapatan keluarga. “Jumlah tamu yang menginap di rumah rata-rata tiap malamnya 20-30 orang. Untuk mengantisipasi antrean di kamar mandi, kami membuat kamar mandi khusus untuk tamu. Hal itu untuk menghindari bercampur baurnya pemilik rumah dengan tamunya menggukan kamar mandi. Kita tidak menyediakan kamar khusus. Setiap orang dipungut biaya Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kepala satu malam,” terang Alizar.

Baik Alizar ataupun Ake, mereka hanya menunggu kedatangan keluarga JCH asal Jambi dan Bengkulu. Sebab keluarga jamaah itu tidak sempat untuk pulang ke kampungnya di hari yang sama. Dari sejumlah informasi yang dihimpun Padang Ekspres di sekitar embarkasi, hampir setiap rumah dijadikan wisma dadakan.

Pemberangakatan JCH

Hingga kemarin telah lima kloter JCH asal Embarkasi sampai di Jeddah, Saudi Arabia. Pada kloter lima 269 orang jamaah diberangkatkan berasal dari Kabupaten Sarulangon 109 orang, Kabupaten Tebo 119 dan Kota Padang 41 orang. Jumlah itu ditambah 5 petugas haji. Kloter 5 berangkat sekitar pukul 10. 05 WIB menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan 3505.

Untuk Kloter 6 akan berangkat besok. Kloter ini berasal dari Provinsi Bengkulu sebanyak 264 orang JCH. JCH asal Bengkulu datang ke Padang via udara yang diperkirakan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sekitar pukul 09.00 WIB. (ilham safutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: