h1

Parkir Masih Rawan Curanmor

Desember 28, 2008
Rabu, 10 Desember 2008
Padang, Padek—Jasa parkir yang disediakan sejumlah masyarakat di kawasan umum ditujukan untuk memberikan fasilitas keamanan kepada pemilik kendaraan bermotor. Hanya saja, jasa tersebut tidak semua dapat memberikan jaminan kepada pengguna jasa bahwa kendaraan yang dititipkan itu aman dari tindakan pencurian.

Buktinya, dari data yang didapatkan Padang Ekspres di Poltabes Padang, sejak Januari 2008 hingga 30 November 2008, aparat kepolisian menangani 121 kasus curanmor. Dari sejumlah itu, 55 kasus di antaranya terjadi sekitar pukul 00.00 WIB-06.00 WIB, 41 kasus di antaranya terjadi sekitar pukul pukul 18.00 WIB-24.00 WIB, dan 25 kasus terjadi di luar waktu tersebut.

Dari segi tempat kejadian perkara (TKP) nya, kasus curanmor terjadi di kawasan pasar atau kompleks pertokoan sebanyak 37 kasus, di kawasan pemukiman atau perumahan sebanyak 49 kasus, di kawasan perkantoran 16 kasus, dan 19 kasus di terjadi di luar kawasan tersebut.

Untuk di kawasan perkantoran dan pasar pertokoan, umumnya terdapat lahan parkir yang dikelola masyarakat. Seluruh kasus itu sebagiannya masih dalam tahap penyelidikan aparat kepolisian untuk diungkap. “Sebagiannya telah diungkap dengan menangkap pelakunya,” kata Kasatreskrim Poltabes Padang Kompol Hendri Budiman.

Menurut Hendri Budiman, tindak kriminal seperti curanmor tidak hanya terjadi di kawasan tertentu. Pelaku pencuri tidak pernah memilih tempat sasaran kendaraan yang digondol. “Di mana ada kesempatan, di saat itu pelaku beraksi. Makanya pemilik kendaraan harus memerhatikan keamanan tempat parkir kendaraannya dan memastikan kendaraannya terkunci dengan aman,” kata Hendri.

Kendati demikian, Hendri tidak menampik terjadinya kasus curanmor di area parkir. Tindakan curanmor di area parkir paling banyak terjadi ketika hari libur Lebaran lalu. Semua itu terjadi di tempat-tempat parkir umum, seperti di pasar, pusat keramaian wisata, dan tempat-tempat yang luput dari perhatian orang banyak.

Lebih lanjut Hendri mengatakan, petugas parkir masih lalai dalam menjalani tugas. Pasalnya, petugas parkir hanya muncul ketika meminta uang retribusi pada pengemudi atau pengendara mengeluarkan kendaraannya. Sedangkan ketika pengendara atau pengemudi kendaraan mencari tempat untuk memarkir kendaraannya, petugas parkir lebih banyak bersikap tak acuh.

Parahnya parkir yang bersifat insidentil. Di kawasan keramaian sesaat itu, petugas parkir musiman bermunculan. Akan tetapi motifnya lebih tertuju untuk memungut uang parkir.  Saat itu petugas parkir hanya memungut biaya retribusinya di muka. Setelah itu petugasnya tidak lagi menjaga kendaraan dengan seksama. Biaya parkir saat itu pun melewati ketentuan, sebesar Rp2 ribu hingga Rp4 ribu.

Selama digalakkannya operasi premanisme oleh jajaran kepolisian, Poltabes berhasil meringkus beberapa preman yang terindikasi berkedok sebagai tukang parkir. Buktinya ketika operasi preman Sabtu (8/11) dan (22/11) lalu, petugas berhasil mendapatkan barang bukti berupa karcis parkir lusuh.  Hendri Budiman berharap instansi pelaksana parkir agar lebih memberikan perhatian pada juru parkir. Sebab di lahan itu terdapat sumber pendapatan daerah yang tidak sedikit. (i)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: