h1

Pemilik SPBU Tagih Kompensasi, Pertamina: Itu Risiko Dagang yang Harus Ditanggung

Desember 28, 2008
Selasa, 16 Desember 2008
Sample ImagePadang, Padek—Pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mengaku dirugikan dengan kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM secara mendadak. Pasalnya pemilik SPBU telah terlanjur mendrop pasokan minyak ke dalam tangki pengisian, sehingga ketika harga turun, pemilik SPBU dirugikan ratusan juta.

Pemilik SPBU meminta Pertamina ikut bertanggung jawab dengan kerugian yang ditanggung dengan cara memberikan kompensasi kepada pemilik SPBU yang telah terlanjur membeli BBM dengan harga tinggi.

“Kami sangat dirugikan dengan kebijakan ini. Seluruh SPBU yang ada di Indonesia bisa dipastikan rugi dengan kebijakan itu, kalau tidak ada kebijakan margin dari pertamina. Bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Asnawi Bahar, pemilik SPBU Khatib Sulaiman, kemarin (15/12).

Asnawi yang juga Ketua Kadin Sumbar itu menyebutkan, jika terjadi penurunan stok BBM, maka Pertamina langsung memberikan sanksi kepada SPBU. Sanksi yang diberikan pertamina kepada SPBU dengan tidak memberikan jatah BBM kepada SPBU selama dua minggu.

Jika harga naik, SPBU diwajibkan membayar harga BBM lebih tinggi. Namun ketika SPBU sudah membeli minyak dengan harga tinggi, kemudian harga turun, Pertamina juga harus memberikan kompensasi kepada SPBU. “Pertamina harus berlaku adil kepada mitra kerjanya. Kami minta Pertamina pikirkan nasib kami juga,” katanya.

Asnawi mengatakan sama sekali tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya dari Pertamina tentang penurunan harga BBM. Ia sudah memasok SPBU sejak Jumat dengan harga Rp6 ribu untuk premium dan Rp5.500 untuk solar sebanyak 30 ton.

“Pada SPBU saya 50 persen sudah terisi minyak sebelum ada kebijakan itu, otomatis saya rugi dong, tidak hanya saya yang rugi, 106 SPBU yang ada di Sumbar sangat dirugikan dengan kebijakan itu,” tuturnya.

Irfianda Abidin, pemilik SPBU di Gunuangpanggilun juga mengaku rugi. Pertamina  harus  memberikan kompensasi kepada pengelola SBPU. “Logikanya, kami kan menjual barang yang diperdagangkan pertamina dan kami juga memberikan keuntungan bagi pertamina dan sudah seharusnya pertamina juga memberikan kontribusi kepada kami,” ucapnya.

Bustami, pengurus SPBU di Tanahbadantung, Sijunjung juga mengaku rugi dengan mendadak diturunkannya harga BBM. Karena BBM yang kami beli dengan harga lama masih tersedia hingga harga diturunkan.

Dikatakannya, stok BBM jenis premium di SPBU yang dibeli dengan harga lama ke Pertamina hingga harganya diturunkan pukul 00.00 WIB lusa kemarin, masih tersedia sebanyak 18.945 ton, dan solar sebanyak 14.452 ton. Hal yang sama juga terjadi waktu harga BBM turun, 1 Desember.

Sementara, pengecer BBM War mengalami hal yang sama. “Saya tidak tahu kalau hari ini harga BBM diturunkan pemerintah. Saya sudah terlanjur membeli BBM sejak Sabtu lalu, sehingga ketika harga BBM turun saya jadi rugi puluhan ribu dibuatnya,” ujar War, pengecer bensin dan solar di Jalan Proklamasi.

War menyebutkan, biasanya ia  membeli dari Pertamina 20 liter bensin seharga Rp120 ribu dan 20 liter solar seharga Rp110 ribu.Sample Image Bensin dijualnya seharga Rp6.500 per liter sedangkan solar Rp6 ribu. Dengan penurunan harga BBM, otomatis ia harus menurunkan harga sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Pertamina.

ANTRE BBM: Pengendara motor antre mengisi BBM di SPBU kawasan Jati, kemarin. Turunnya harga premium Rp4.800 dan solar Rp5.000 terimbas pada meruginya SPBU.

“Uang itu bagi kami sangat penting artinya,uang itu bisa mengganjal perut kami,” ujar warga Terandam itu sembari menambahkan ia menambah pasokan selama dua hari.

Regulasi Pemerintah

Secara terpisah, Sales Area Manager (SAM) Pertamina Pramono mengatakan selisih harga akibat penurunan BBM yang ditanggung pengusaha SPBU imbas dari penurunan harga BBM jenis premium dan solar, risiko dagang yang harus ditanggung. Sebab, penurunan harga tersebut merupakan regulasi pemerintah sehingga tidak ada penggantian selisih harga antara pembelian sebelum dan setelah BBM turun.

“Dari sisi margin/ keuntungan, pihak SPBU tidak mengalami kerugian. Pasalnya, nilai keuntungan yang ditetapkan Pertamina sama seperti sebelum kenaikan harga Rp180 per liter BBM dari harga pokok penjualan. Namun memang untuk pihak SPBU yang telah memasok stok BBM sebelum penurunan harga, mengalami sedikit kerugian modal kerja.

Itu merupakan risiko dagang, toh sebelumnya juga terjadi kenaikan harga, otomatis SPBU juga mendapatkan keuntungan modal kerja,” ujar Pramono didampingi Sales Representatif Retail BBM Nafwan Tanjung di ruang kerjanya, kemarin.

Risiko tersebut menurutnya memang harus ditanggung pihak SPBU, sebab sebagai Public Service Obligation (PSO), pemilik SPBU tidak hanya mengedepankan aspek bisnis semata, tetapi juga mengedepankan aspek sosial kemasyarakatan. Apalagi, barang dagangan yang dijual SPBU merupakan barang subsidi, yang sangat penting untuk kehidupan banyak orang.

Sedangkan bagi SPBU yang sudah melakukan delivery order, namun stok BBM tersebut belum masuk ke dalam tangki penyimpanan, maka harga yang ditetapkan disesuaikan dengan harga yang berlaku saat terjadinya penurunan harga.

Ia memuji langkah pemerintah yang mengumumkan harga secara mendadak, sehingga tidak ada kemungkinan SPBU untuk bermain, atau melakukan penyimpanan stok. Sebab berdasar pengalaman penurunan BBM awal Desember lalu, di sejumlah daerah di Indonesia banyak SPBU menimbun BBM, sehingga BBM sulit di pasaran. Hal tersebut merupakan langkah antsipasi dari sejumlah spekulan, untuk merugikan negara.

Di Sumbar sendiri, kondisi tersebut hingga saat ini memang belum terjadi, tetapi pembelian secara berlebihan yang dilakukan warga, membuat alokasi BBM meningkat dari 1.300 kl/ hari menjadi 1.700/kl perhari. Hingga saat ini permintaan BBM di sejumlah daerah masih belum stabil, diatas normal antara 1.400 kl/hari dan 1.500kl/hari.

“Untuk itu kita sangat mengharapkan warga tidak perlu membeli BBM dalam jumlah berlebihan, sebab stok BBM Sumbar stabil, sehingga warga tidak perlu khawatir dengan kehabisan stok,” ujarnya. (ILHAM SAFUTRA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: